Kamis, 27 April 2017

Maafkan ku lebih mencintai DIA





Dibalik waktu aku menyembunyikan rasaku,

Berharap jawaban Tuhan lewat untaian doa yang ku lantunkan,

Untukmu yang selalu aku inginkan,

Aku akan menunggu,

Hingga waktu yang tlah ditentukan,

Semoga kita ditakdirkan satu jalan satu tujuan,  

"A"



Maafkan ku lebih mencintai DIA

Kamis, 02 Juni 2012 ku tetapkan sebagai hari yang bersejarah dalam hidup ku, karena di hari itu orang yang selama hampir 2 tahun ini aku kenal sekaligus aku kagumi, juga orang yang selama ini menjadi topik utama dalam pembicaraanku bersama sahabat-sahabatku, dia sempurna mengutarakan isi hatinya kepada ku. Pagi itu pukul 07.30, dia mengirimi ku pesan singkat via SMS.

“Dek, Bisa ke rumah kakak hari ini? Penting soalnya.”
 “Ia Kak, tapi nanti agak siangan ya?”balasku singkat. Tak ingin berlama-lama, segera ku selesaikan pekerjaan rumah yang saat itu ku kerjakan.
Sesampainya aku di depan rumahnya, Kudapati pintu rumah yang masih tertutup dengan keadaan di sekitar yang sangat sepi, Sepertinya tidak ada orang dirumah.
“Assalamu’allaikum!”
 “Wa’allaikum salam!”terdengar seseorang menjawab salamku dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Masuk.. masuk Dek! Silahkan duduk”
“Iya Kak ,” duduk ku di sofa paling ujung menghadap ke ruang tengah rumahnya.
“Oh iya, ada hal penting apa ya sampai kakak menyuruh adek ke sini? Terus, kok rumah kakak sepi banget, Bapak Ibu kemana?” aku bertanya sembari menengok ke sana kemari mencari keberadaan kedua orang tuanya.
“Iya, mereka lagi pergi keluar, ada keperluan katanya!” dia masih belum menjawab pertanyaan ku, tentang hal penting apa yang sebenarnya dia maksudkan.
“oh.. begitu ya!” aku hanya menjawab ringan pernyataannya.
“Dek, kakak sengaja meminta adek ke sini. Karena ada hal penting yang harus kakak sampaikan sama adek. Soal perasaan kakak, selama ini kita berdua sudah saling mengenal, adek selalu ada untuk mensuport kakak, dan kakak juga merasa begitu nyaman sama adek. Kakak merasa perasaan yang ada di hati kakak saat ini sudah lebih dari rasa sayang seorang kakak untuk adiknya. Kakak sayang sama adek, kakak cinta, kakak ingin adek jadi pacar kakak. Adek bersedia kan jadi pacar kakak?
Dia yang dari tadi  duduk di sampingku tiba-tiba menatapku dan memintaku segera menjawab pertanyaannya. Seketika pula dia membuatku menjadi salah tingkah, mulutku seperti terkunci, gugup, tak tahu bagaimana harus menjawabnya. “Pacar” hanya kata itu yang terus terngiang di pikiran ku. Aku takut untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila kami berdua nanti menyepakati komitmen yang bernama “pacaran”. Aku takut, kisah cinta kami berdua tidak sampai berakhir dengan bahagia, bisa jadi malah putus di tengah jalan dan nantinya berpengaruh untuk hubungan baik yang sudah kami jalani selam ini. Aku takut keterpisahan kami sebagai sepasang kekasih membuat kami berdua menjadi orang yang asing satu sama lain nantinya. Aku merasa perjalananku masih panjang, usiaku saja baru 19 tahun masih banyak yang harus aku selesaikan, mimpi-mimpi yang belum mampu ku wujudkan, belum siap juga kalau harus menempuh jalan pernikahan agar kami bisa menjadi sepasang kekasih yang halal tentunya. Tapi aku harus bagaimana? di satu sisi aku ragu , di sisi lain aku menyayanginya.
“kok, diam saja dek! Bagaimana, adek bersedia tidak jadi pacar kakak?” seketika dia memecah  lamunanku, dan kembali menghantamku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama.
“Kakak serius sayang sama adek?” aku mencoba mencari tahu kebenaran dari pernyataannya tadi.
“Tentu kakak serius dek!”
“Kalau kakak sayang sama adek, kakak bersedia menjaga adek? Adek bisa saja jadi pacar kakak, tapi adek tidak bisa pacaran seperti kebanyakan orang-orang lain lakukan kak, kakak ngerti kan?”
Aku mencoba menjelaskan hal yang kadang cukup sulit untuk ku utarakan dengan kata-kata, berharap dia akan mengerti semua yang ku katakan. Aku tahu dia sudah cukup lama mengenalku, dan seharusnya mengerti seperti apa diriku. Yang jelas aku hanya ingin kata “Pacaran” nanti tidak akan mengubah batasan-batasan yang sudah ditentukan dalam norma agamaku. Karena bagiku, dengan status pacaran atau tidak  tetap ada batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan. Salah satunya untuk tidak bersentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Dia tidak bisa seenaknya memegang tanganku ataupun hal berlebihan lainnya. Sebenarnya aku sadar dalam agama islam pacaran itu memang sangat jelas di larang. Tapi, saat itu aku seperti dibutakan oleh cinta, secara tidak langsung aku sudah melanggar batasan-batasan yang dilarang agamaku, aku berani berduaan dengan laki-laki yang bukan muhrim ku, aku berani menemuinya bahkan dengan aku yang harus pertama menghampiri dirinya. Hati kecilku menyadari kesalahan-kesalahan ku kala itu. Tapi, memang saat itu imanku masih begitu lemah, aku menyepelekan semuanya, aku menganggap semua akan baik-baik saja, aku yakin akan bisa menjaga dan mengendalikan diri ku sendiri.
“Ia dek, kakak mengerti, kakak tahu segala batasan untuk kita. Kakak janji akan menjaga adek, kakak tidak akan macam-macam sama adek!”
“Ia, tentu kakak juga tahu kan? kalau orang sayang itu pasti akan menjaga dan tidak akan pernah merusak apapun yang jadi kesayangannya itu.”
“Ia dek, kakak tahu, kakak mengerti. Adek bisa pegang omongan kakak ini!” dan akhirnya mendengar pernyataan-pernyataan  yang seperti itu membuat ku luluh, ku abaikan  kesadaran dari hati kecilku. Sehingga aku setuju untuk menjalani komitmen bernama pacaran dengan dia. Dan sejak hari itu aku resmi menjadi pacar dari Prasetya, laki-laki yang aku kagumi hampir dua tahun ini.
Aku mencoba percaya dia akan bisa menjagaku meski masih terbesit ragu di hati kecilku. Keluarga kami saling mengenal, karena memang jarak rumah kami yang tidak begitu jauh. Ibu mengetahui kedekatan ku dengan dia, dan tidak pernah ada protes dari ibu untuk hal itu. Malah tidak jarang ibu meminta dia untuk menemaniku pergi dan itu membuatku begitu yakin menjalani semuanya dengan dia. Sebenarnya ada satu alasan penting yang membuatku menerimanya sebagai pacar ku, aku ingin bisa membuatnya kembali mendekatkan diri kepada Allah. Meskipun aku sendiri masih perlu banyak memperbaiki diri, namun aku ingin melakukan semuanya bersama dia. Dengan posisiku sebagai pacarnya aku berpikir dia pasti akan menuruti setiap hal yang coba aku sarankan untuk dia, selama itu memang masih dalam batas kewajaran dan tidak merugikannya.
Sebuah komitmen bernama “ Pacaran” ini kian lama terasa kian mengikat kami berdua. Setiap hari kami selalu bertukar kabar via SMS, rasanya hampir tidak pernah kehabisan topik pembahasan untuk kami berdua agar terus berkirim pesan singkat setiap menitnya. Mulai dari pertanyaan sederhana seperti “sedang apa, sudah makan apa belum?, jangan lupa makan ya” berbagai bentuk perhatian yang membuat diri terus dibuat melayang karenanya. Tidak sadar seringnya di buat senyum-senyum sendiri di depan layar handphone, .
“kak, Alhamdulillah adek dapat kerjaan, dan besok adek sudah bisa bekerja, di tempat fotokopinya mbak Mei” aku kembali mengiriminya pesan
“Oh ya, Alhamdulillah kalau begitu  dek, ya sudah adek kerja yang rajin  dan  tetap semangat ya”kembali dia menyemangatiku
“Tentu kak, InsyaAllah. Adek akan selalu semangat. Terima kasih J
Dalam hitungan Minggu kami berpacaran, semua masih baik-baik saja. Dia tetap dengan dewasanya menasihatiku, menjagaku dan tidak pernah menuntut macam-macam dari ku. Dan selama menjadi pacarnya, aku perlahan-lahan mencoba untuk membuatnya tidak melupakan kewajibannya sebagai umat muslim. Karena masih ada hal yang aku sayangkan dari dirinya, shalat lima waktu yang masih sering dia tinggalkan. Meski begitu, aku tidak mau menyerah untuk terus mengingatkan dia agar tidak pernah meninggalkan kewajibannya itu. Bukankah Shalat adalah tiang agama dan memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk menjalankannya, sebagai pengukuh pondasi keimanan kits, InsyaAllah. Aku tidak mau orang yang aku sayang jauh dari Tuhan ku. Aku selalu berharap semoga Allah juga selalu menguatkan keimananku.
Setiap pagi di waktu subuh aku selalu menyempatkan diri untuk menelpon dia, agar dia bangun dan bisa menjalankan kewajibannya untuk shalat subuh.
“Assalamu’alaikum kak!”
“emm...... Wa’alaikum salam dek!” terdengar suara dia yang masih begitu lemas karena baru bangun tidur.
“Kak, kakak bangun dong..... shalat subuh... ayo buka matanya... shalat subuh dulu!” aku selalu bersemangat membangunkannya, aku terus mengomel berusaha menyadarkan dia dari rasa kantuknya.
“Ia dek, kakak bangun !”
“benar ya bangun? Ya sudah buka matanya jangan merem lagi. Bangun, terus shalat !”
“Ia dek, ia.... ya sudah kakak mau siap-siap shalat dulu ya. Assalamu’allaikum”
“Wa’alaikum salam”
Aku sangat senang pagi itu dia mau bangun dan bergegas melaksanakan shalat subuh.
            Kamis, 15 Juni 2012 hari pertama ku masuk kerja di tempat fotokopi dan perlengkapan alat tulis, jelas aku masih begitu asing dengan semuanya, masih banyak yang harus aku pelajari di sini, mulai dari belajar fotokopi, mengenal nama dan letak setiap barang beserta harga-harganya. Beruntung istri dari yang punya toko masih mempunyai hubungan dekat dengan keluarga ku, dan di sini aku selalu di perlakukan dengan baik oleh mereka. Teman kerjaku juga begitu telaten mengajari ku satu persatu hal yang musti aku kerjakan. Di sini setiap harinya aku selalu bertemu dengan banyak orang dengan karakter dan profesi yang berbeda-beda, mulai dari pelajar, guru dan yang lainnya. Aku harus bisa bersosialisasi dengan baik dengan konsumen-konsumen ku. Aku juga harus bisa mengoperasikan komputer dengan seperangkat software lainnya di sini, dan Alhamdulillah ilmu yang aku dapat saat sekolah dulu bisa aku terapkan di tempat kerja, itu membantuku bisa dengan cepat mengerjakan apa yang jadi perintah dan  kebutuhan konsumen ku. Karena di sini hanya ada dua karyawan, dan banyak hal yang harus ditangani. Memaksa kami untuk benar-benar fokus dalam bekerja. Tak jarang juga kami kewalahan menangani permintaan konsumen yang begitu banyak.
Pukul 17.00 WIB jam pulang kerjaku, aku harus segera mengabari kak Pras yang saat itu menjadi orang yang terdaftar dalam list penting di kehidupanku. Dia dengan pengertiannya tidak pernah mau mengganggu aktivitas ku saat jam-jam kerja, jadi kami ada komunikasi saat aku istirahat di waktu dzuhur dan di lanjut lagi sore saat aku selesai bekerja. Aku beruntung rasanya memiliki dia, dengan kedewasaannya, pengertiannya, dan dengan dia yang tidak pernah banyak protes untuk hubungan yang saat itu kami jalani. Kami bertetangga tapi memang jarang bertemu, karena aku harus sibuk bekerja, malam Minggu yang jarang kami manfaatkan untuk keluar bareng, karena hari Minggunya aku tetap harus masuk kerja. Begitu sibuknya sampai-sampai aku jarang ada waktu untuk tepat berada di sisinya secara nyata. Kami hanya memanfaatkan media elektronik untuk terus berkirim kabar. Chating via sms, atau kalau sudah merasa rindu dia mencoba menghubungi ku via telepon. Dan aku terus memanfaatkan momen seperti itu dengan baik, aku selalu menyempatkan waktu untuk terus mengingatkan dia agar tetap melaksanakan kewajibannya untuk tidak meninggalkan shalat. Dari subuh sampai Isya aku terus mengingatkannya. Tidak jarang, dia masih mengabaikan perkataan ku. Sering dia jujur berkata
Ia dek, nanti kalau kakak sudah niat pun akan kakak laksanakan semuanya. Tanpa adek harus memaksa kakak, dan sekarang kakak masih belum siap!”
Aku terkadang menyayangkan semua itu. Tapi, aku tidak mau menyerah begitu saja, aku akan terus mengingatkan dia agar tidak pernah meninggalkan shalatnya, Semua yang coba aku ingatkan, sebenarnya memang berlaku juga untuk diriku. Karena setiap kali aku mengingatkan dia, maka setiap itu juga aku mengingatkan diri ku sendiri.
            Tidak terasa sudah hampir satu tahun aku menjalani semuanya dengan dia, banyak perubahan-perubahan yang aku lihat dari dirinya, dia yang sudah mau mendengar dan menuruti saranku untuk menjaga shalatnya, tapi dia yang juga mulai berubah sikap. Dia melanggar kesepakatan-kesepakatan kami di awal, dia mulai menuntutku untuk hal-hal berlebihan yang akan melanggar norma dalam agamaku, aku yang saat itu merasa begitu mencintainya, merasa takut kehilangannya. Tidak sadar, dengan kami yang mulai sering bertemu dan memiliki waktu untuk berdua, setan pun ada di tengah-tengah kami, dan aku mulai merasa biasa kala dia berani memegang tanganku, tidak ada protes lagi yang ku ucapkan kepadanya. Keimananku yang semakin melemah, dari hari ke hari aku yang merasa sudah hilang kendali, benar-benar melupakan apa yang aku ucapkan sendiri. Aku selalu menyetujui untuk keluar setiap malam Minggu dengannya, ibu mempercayai ku dengan memberikan izin setiap kali tahu aku akan pergi keluar dengan kak Pras. Tapi aku menyalah gunakan kepercayaan yang ibu berikan kepada ku. Mulai dari itu, aku selalu menuruti keinginannya untuk pergi keluar setiap malam Minggu, menghabiskan malam berdua dengannya. dan setiap hari Minggunya, karena jam masuk kerjaku siang aku putuskan untuk menemui dia di rumahnya, rasa rindu yang terus membelenggu, rasa rindu yang tidak mampu ku kendalikan dengan baik, membuatku menuruti setiap perintah dia yang aku cinta.
Bukan hanya itu, aku mulai berani melepas hijab ku saat berdua dengannya. Aku merasa lebih percaya diri dengan rambut terurai panjang agar terlihat lebih menarik di depannya. Yang ada di pikiranku saat itu, “toh aku melepas hijab hanya untuk satu orang, tidak ku umbar ke siapa-siapa lagi” lagi-lagi aku menyepelekan semua kesalahan yang aku  mulai langgar sendiri. Dengan begitu dia kembali berani memegang tangan dan membelai rambutku. Semua hal yang ku lakukan benar-benar menurunkan kodratku sendiri sebagai perempuan, aku mengumbar aurat ku sendiri untuk di nikmati oleh laki-laki yang bukan muhrim ku. Dua manusia yang sedang di mabuk cinta akal dan logikanya sering kali tidak berfungsi dengan baik, yang ada di pikirannya hanya kenikmatan dan kepuasan yang sesaat. Beruntung Allah masih melindungi ku, sampai aku tidak melakukan suatu hal yang fatal, yang akan benar-benar merugikan hidup dan  masa depan ku nantinya.
Semakin hari, rasanya semakin asing dengan diriku sendiri. Semua hal yang ku lakukan memang bertentangan dengan hati nurani. Allah mungkin kembali merindukan ku untuk aku kembali mendekatkan diri kepada-Nya, hingga aku masih kembali di ingatkan oleh-Nya. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan hubungan yang seperti ini. Dengan hati dan logika ku yang mulai kembali sinkron berfungsi rasanya aku malu dengan diri ku sendiri, dengan hijabku, dengan Allah Tuhan ku. Aku menjalankan shalat lima waktuku, aku menutup aurat ku, tapi aku tidak bisa menjaga sikapku. Aku masih melakukan hal-hal yang dilarang dalam agamaku dengan masih mau menjalani hubungan yang bernama pacaran dengan laki-laki yang jelas bukan muhrim ku. Hubungan yang membuat ku malah lebih jauh dengan Tuhan ku, hubungan yang nyatanya belum bisa mendewasakan ku jadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku sudah benar-benar hilang kendali, dengan aku yang juga mulai berbeda mengenali dia yang aku cintai. Aku putuskan untuk kembali membatasi diri, mencari-cari alasan agar tidak mudah bertemu dengan dia, aku selalu berharap hujan setiap malam Minggu agar aku tidak harus keluar bersamanya, yang aku inginkan saat itu tidak dulu ingin bertemu dengannya sampai aku benar-benar bisa mengontrol diriku dengan baik. Akan tetapi sebagai wanita, tentu aku lebih menggunakan perasaan dibandingkan laki-laki yang lebih menggunakan logika. Dengan perasaanku yang sudah terlanjur dalam padanya, rasanya begitu berat untuk menjauh darinya. Ketika perasaanku berkata untuk mencarinya sedang logika ku berkata jangan. Aku berusaha sekuat tenaga menepis rasa rindu ku padanya. Aku mencoba mengisi waktu luangku dengan melakukan hal-hal yang aku sukai. Selepas bekerja ku isi waktu luangku dengan membaca novel, dan selepas shalat Isya aku putuskan untuk segera tidur agar tidak terlalu banyak waktu yang ku habiskan untuk bertukar kabar dengannya. Awalnya aku merasa benar-benar tersiksa, rasanya sangat berat menahan beban perasaan ini. Namun aku yakin bahwa ini adalah jalan terbaik. Dan Allah akan selalu ada untuk hambanya yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Satu hal yang aku yakini saat itu bahwa serugi-ruginya manusia adalah dia yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin
Sampai pada akhirnya, keseringan aku tidak bisa menemui dan menemani setiap dia membutuhkanku, mungkin dia pun mulai tidak nyaman dengan ku. Aku mendapatkan kabar dari teman-temanku bahwa dia jalan dengan perempuan lain. Awalnya aku tidak mempercayai hal itu, namun pada akhirnya aku percaya. Aku melihat semuanya dengan mata kepala ku sendiri. Aku melihat dia jalan dengan perempuan lain ketika malam Minggu aku keluar dengan saudara laki-laki ku. Saat itu sengaja aku tidak mendekati mereka, aku memutuskan untuk mengikuti mereka di belakang. Rasanya aku tidak percaya dia melakukan semua itu di belakangku. Ternyata selama 3 tahun aku tidak benar-benar mengenalnya, masih banyak sikap dia yang tidak aku ketahui. Jelas aku sangat syok melihat semuanya, sampai membuat sesak dadaku kala bernafas. Hanya rasa sakit bercampur kecewa yang aku rasakan waktu itu. Semua yang telah aku lewati dan jalani bersama dia seketika terlintas di pikiranku. Aku menyesali apa yang telah aku lakukan bersamanya.
Besok malamnya aku putuskan untuk menemui dia di rumahnya tanpa memberi tahunya terlebih dahulu, karena aku harus menyelesaikan semuanya. Dengan hati yang terlanjur sakit aku memutuskan untuk menyudahi komitmen pacaran yang sudah kami sepakati dari 1 tahun yang lalu. Sampai di rumahnya, terlihat jelas raut wajahnya yang terkejut kala dia melihatku tiba-tiba datang ke rumah dengan tidak mengabarinya terlebih dahulu, beruntung tidak ada orang tuanya saat itu. Tapi dia tetap menyambut baik kedatangan ku dengan segera mempersilakan ku  masuk dan duduk. Aku duduk di tempat biasa, sofa paling ujung menghadap ke ruang tengah rumahnya. Tanpa basa-basi segera ku ungkapkan apa yang ingin ku sampaikan kepadanya.
“Aku tahu semuanya kak, dan maaf aku tidak bisa lagi menjadi pacar mu. Aku tidak mau menyakiti wanita yang saat ini sudah selalu ada untukmu, sedang aku yang tidak pernah ada kala kamu butuh. Maaf kak, aku rasa baiknya hubungan kita cukup sampai di sini. Aku tidak lagi harus jadi pacar kak Pras!”
 “Tahu apa Dek? wanita yang mana? Adek tiba-tiba ke sini tanpa memberi tahu kakak, dan adek ngebahas hal yang tidak kakak mengerti.”
“Aku tahu malam Minggu kemarin kakak pergi jalan sama Nira, dan kakak berani memegang tangan Nira. Kenapa kakak tega ngelakuin semua itu di belakang ku kak?” Aku mengungkapkan semuanya dengan  aku harus mengingat kembali kejadian yang pasti membuat sakit hatiku. Dan benar saja tanpa terasa air mataku jatuh membahasi pipi saat mengungkapkannya.
“Kakak bisa jelaskan semuanya dek, tolong adek dengerin kakak! Adek juga tidak bisa memutuskan hubungan kita secara sepihak.”
“Maaf kak, adek tidak bisa. Adek juga merasa kita menjalani hubungan ini sudah terlalu jauh dari norma agama kita, kakak sudah melanggar semua kesepakatan-kesepakatan kita di awal, dengan adek yang juga ikut terbawa tidak bisa mengontrol diri. Maaf, Keputusan adek tidak akan berubah. Adek ingin kita menyudahi hubungan kita, adek ingin memperbaiki diri adek dan semoga kakak juga bisa kembali memperbaiki diri. Bila pun berjodoh semoga Allah mempertemukan dan menyatukan kita kembali dengan cara yang baik. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita kak!” Dia tetap menahanku, memaksaku untuk tidak mengakhiri hubungan kami. Namun Keputusan ku sudah bulat, aku tidak lagi mau mendengarkan semua penjelasannya, aku tidak mau lagi terus menjalani komitmen pacaran dengannya.  Segera aku berdiri dari tempat duduk ku dan ku ucapkan salam untuk pamit pulang.
Keterpisahan yang tetap saja menyisakan luka, kecewa dan air mata. Hati yang masih tetap jauh dari Sang Maha Pemilik Segala Rasa. Bila kadang tak sengaja teringat, makanan apapun di depanku terlihat dan terasa tak nikmat. Raga yang seperti tak bernyawa, dengan hidup yang tak tahu arah dan tujuannya. Tapi Allah tak akan memberikan ujian lebih dari batas kemampuan umat-Nya. Allah masih menghidupkan hatiku. Demi ingin menghilangkan rasa sakit dalam hati ku, aku harus terus berusaha menjalani hidup ku dengan baik. Aku harus kembali kepada Tuhan ku. Ku isi hari Senin dan Kamis ku dengan berpuasa Sunah, berharap Allah akan menyejukkan hatiku, shalat malam yang mulai kembali ku kerjakan, bacaan ayat suci yang rutin ku lantunkan setiap waktu maghrib, Isya dan Subuhku. Berharap aku bisa kembali berdamai dengan diriku juga dengan kenyataan yang sudah menjadi ketentuan-Nya.
Dari semua kisah ku bersamanya, aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa tidak akan pernah ada pacaran dengan cara yang sehat, dengan tidak ada embel-embel hal negatif yang akan dilakukan. Aku merasa sakit memang, mendapat penghianatan dari orang yang selama ini aku puja dan aku banggakan. Tapi semoga rasa sakit itu mengajarkan ku banyak hal, menjadikanku pribadi yang lebih kuat dan lebih baik lagi untuk ke depannya. Aku merasa beruntung Allah masih menegurku dengan jalan yang seperti ini. Status JOMBLO tidak lagi aku pedulikan, terserah mau orang menilai ku tidak laku karena tidak mempunyai pacar . Yang saat ini ingin ku lakukan hanyalah kembali menata masa depan ku dengan baik, memperbaiki diri ku, dan untuk masalah jodoh aku hanya akan menunggu satu laki-laki yang memang sudah di tentukan dan di tetapkan oleh Allah untuk ku. Sembari menunggu biar aku perbaiki diriku. Karena aku meyakini firman-Nya dalam surat An – Nur : 26
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”
Semoga Allah kelak mempertemukan dan menyatukanku dengan laki-laki saleh, yang berakhlak baik juga bertanggung jawab.  Laki-laki yang Allah Ridhoi tentunya dan semoga Allah selalu melindungiku, dari segala fitnah dan dari segala perbuatan yang tidak jadi keridhoan-Nya agar aku tidak lagi harus terjatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama. Amin.....


Diantara kertas yang berserak,

Diantara buku yang berdebu,

Ada rindu yang berontak,

Menunggu waktu tuk bertemu,

Kamu,

"A"
 

Jumat, 24 Maret 2017

Be a Silent

Tidak sedikit penulis-penulis hebat yang terus merangkai kata-kata terbaik pengutaraan hati,  Untuk tersusun menjadi kalimat utuh yang bermakna. Berharap semoga bisa mewakilkan isi hati pembaca yang merasakannya.


I once heard someone say
“There is a moment to talk and There is a moment to be silent.”
Satu kalimat yang selalu melekat dalam ingatan ku, mungkin itu juga akan terus berlaku untuk kehidupanku, a  Specialy  “about mind heart concept sebut saja begitu.
Ada hal-hal yang tidak mesti banyak orang tahu, termasuk di antaranya “rasa”

            Be a Silent


 

That my choice to always feel the love that God has given me
Satu permasalahan hati yang harus tetap tersimpan baik-baik,
Tertutup rapat-rapat, dengan harus adanya kerja sama untuk
Mulut agar tetap tak berucap.
Tetap nikmat terasa, meski ia yang kita puja
Tak pernah tahu apa yang kita rasa.
Aku lebih suka peranan doa
Sebagai penyampai segala Restu terhadap sang Pencipta
Pun, terhadap lembaran kertas yang penuh dengan goresan pena
Yang darinya, ku mampu sampaikan berjuta kata
Tanpa harus ada yang curiga,
Bila pun ku kaitkan dirimu di dalamnya.
Aku lebih menyukai cara-cara seperti itu,
Karena perasaan yang saat ini kurasa, tidak pernah ku tahu
Makna yang  sebenarnya.
Bisa jadi ini hanya peringatan Tuhan ku
Untuk segala urusan duniaku.
Dengan hati yang kadang begitu menggebu,
Mungkin ini cara-Nya membuatku kembali lebih mendekatkan diri.
Terima kasih untuk segala semangat yang begitu menyublim
Yang aku pun tak tahu cara kerjanya,
Terima kasih, untuk segala tatap tak sengaja yang mampu menyejukkan.
Dan terima kasih, secara tak sengaja pula kau mengajariku
Makna ikhlas mengagumi.