Dibalik waktu aku menyembunyikan rasaku,
Berharap jawaban Tuhan lewat untaian doa yang ku lantunkan,
Untukmu yang selalu aku inginkan,
Aku akan menunggu,
Hingga waktu yang tlah ditentukan,
Semoga kita ditakdirkan satu jalan satu tujuan,
Berharap jawaban Tuhan lewat untaian doa yang ku lantunkan,
Untukmu yang selalu aku inginkan,
Aku akan menunggu,
Hingga waktu yang tlah ditentukan,
Semoga kita ditakdirkan satu jalan satu tujuan,
"A"
Maafkan
ku lebih mencintai DIA
Kamis,
02 Juni 2012 ku tetapkan sebagai hari yang bersejarah dalam hidup ku, karena di
hari itu orang yang selama hampir 2 tahun ini aku kenal sekaligus aku kagumi, juga
orang yang selama ini menjadi topik utama dalam pembicaraanku bersama
sahabat-sahabatku, dia sempurna mengutarakan isi hatinya kepada ku. Pagi itu
pukul 07.30, dia mengirimi ku pesan singkat via SMS.
“Dek, Bisa ke rumah kakak hari ini? Penting soalnya.”
“Ia Kak, tapi nanti agak
siangan ya?”balasku singkat. Tak ingin berlama-lama, segera ku selesaikan pekerjaan
rumah yang saat itu ku kerjakan.
Sesampainya aku di depan rumahnya, Kudapati pintu
rumah yang masih tertutup dengan keadaan di sekitar yang sangat sepi, Sepertinya
tidak ada orang dirumah.
“Assalamu’allaikum!”
“Wa’allaikum salam!”terdengar seseorang menjawab salamku dari dalam rumah. Tak lama
kemudian pintu pun terbuka.
“Masuk.. masuk Dek! Silahkan duduk”
“Iya Kak ,” duduk ku di
sofa paling ujung menghadap ke ruang tengah rumahnya.
“Oh iya, ada hal penting apa ya sampai kakak menyuruh adek ke sini?
Terus, kok rumah kakak sepi banget, Bapak Ibu kemana?” aku bertanya sembari menengok ke sana kemari mencari keberadaan kedua
orang tuanya.
“Iya, mereka lagi pergi keluar, ada keperluan katanya!” dia masih belum menjawab pertanyaan ku, tentang hal penting apa yang
sebenarnya dia maksudkan.
“oh.. begitu ya!” aku
hanya menjawab ringan pernyataannya.
“Dek, kakak sengaja meminta adek ke sini. Karena ada hal penting
yang harus kakak sampaikan sama adek. Soal perasaan kakak, selama ini kita berdua
sudah saling mengenal, adek selalu ada untuk mensuport kakak, dan kakak juga merasa
begitu nyaman sama adek. Kakak merasa perasaan yang ada di hati kakak saat ini
sudah lebih dari rasa sayang seorang kakak untuk adiknya. Kakak sayang sama
adek, kakak cinta, kakak ingin adek jadi pacar kakak. Adek bersedia kan jadi
pacar kakak?
Dia yang dari tadi duduk di sampingku tiba-tiba menatapku dan memintaku
segera menjawab pertanyaannya. Seketika pula dia membuatku menjadi salah
tingkah, mulutku seperti terkunci, gugup, tak tahu bagaimana harus menjawabnya. “Pacar” hanya kata itu yang terus terngiang
di pikiran ku. Aku takut untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila kami berdua nanti menyepakati
komitmen yang bernama “pacaran”. Aku takut, kisah cinta kami berdua tidak
sampai berakhir dengan bahagia, bisa jadi malah putus di tengah jalan dan
nantinya berpengaruh untuk hubungan baik yang sudah kami jalani selam ini. Aku
takut keterpisahan kami sebagai sepasang kekasih membuat kami berdua menjadi
orang yang asing satu sama lain nantinya. Aku merasa perjalananku masih
panjang, usiaku saja baru 19 tahun masih banyak yang harus aku selesaikan,
mimpi-mimpi yang belum mampu ku wujudkan, belum siap juga kalau harus menempuh
jalan pernikahan agar kami bisa menjadi sepasang kekasih yang halal tentunya. Tapi aku harus
bagaimana? di satu sisi aku ragu , di
sisi lain aku menyayanginya.
“kok, diam saja dek! Bagaimana, adek bersedia tidak jadi pacar
kakak?” seketika dia memecah lamunanku, dan kembali menghantamku dengan
pertanyaan-pertanyaan yang sama.
“Kakak serius sayang sama adek?” aku
mencoba mencari tahu kebenaran dari pernyataannya tadi.
“Tentu kakak serius dek!”
“Kalau kakak sayang sama adek, kakak bersedia menjaga adek? Adek
bisa saja jadi pacar kakak, tapi adek tidak bisa pacaran seperti kebanyakan
orang-orang lain lakukan kak, kakak ngerti kan?”
Aku mencoba menjelaskan hal yang kadang cukup sulit untuk ku
utarakan dengan kata-kata, berharap dia akan mengerti semua yang ku katakan. Aku tahu dia sudah cukup lama mengenalku, dan seharusnya mengerti seperti apa diriku. Yang jelas aku hanya ingin kata “Pacaran”
nanti tidak akan mengubah batasan-batasan yang sudah ditentukan dalam norma
agamaku. Karena bagiku, dengan status pacaran atau tidak tetap ada batasan-batasan yang tidak boleh
dilakukan. Salah satunya untuk
tidak bersentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Dia tidak bisa seenaknya memegang tanganku ataupun hal berlebihan
lainnya. Sebenarnya aku sadar
dalam agama islam pacaran itu memang sangat
jelas di larang. Tapi, saat
itu aku seperti dibutakan oleh cinta, secara tidak langsung aku sudah melanggar batasan-batasan yang dilarang agamaku, aku berani
berduaan dengan laki-laki yang bukan muhrim ku, aku berani menemuinya bahkan dengan aku yang harus pertama menghampiri dirinya. Hati kecilku menyadari
kesalahan-kesalahan ku kala itu. Tapi, memang saat itu imanku masih begitu lemah, aku menyepelekan semuanya, aku
menganggap semua akan baik-baik saja, aku yakin akan bisa menjaga dan
mengendalikan diri ku sendiri.
“Ia dek, kakak mengerti, kakak tahu segala batasan untuk kita.
Kakak janji akan menjaga adek, kakak tidak akan macam-macam sama adek!”
“Ia, tentu kakak juga tahu kan? kalau orang sayang itu pasti akan
menjaga dan tidak akan pernah merusak apapun yang jadi kesayangannya itu.”
“Ia dek, kakak tahu, kakak mengerti. Adek bisa pegang omongan kakak
ini!” dan akhirnya mendengar
pernyataan-pernyataan yang seperti itu membuat
ku luluh, ku abaikan kesadaran dari hati
kecilku. Sehingga aku setuju untuk menjalani komitmen bernama pacaran dengan dia. Dan sejak hari itu aku resmi menjadi pacar dari Prasetya, laki-laki yang aku kagumi hampir dua tahun
ini.
Aku mencoba percaya dia akan bisa menjagaku meski masih terbesit ragu di hati kecilku. Keluarga kami saling
mengenal, karena memang jarak
rumah kami yang tidak begitu jauh. Ibu mengetahui kedekatan ku dengan
dia, dan tidak pernah ada protes
dari ibu untuk hal itu. Malah tidak jarang ibu meminta dia untuk menemaniku
pergi dan itu membuatku begitu yakin menjalani semuanya dengan dia. Sebenarnya
ada satu alasan penting yang membuatku
menerimanya sebagai pacar ku,
aku ingin bisa membuatnya kembali
mendekatkan diri kepada Allah. Meskipun
aku sendiri masih perlu banyak
memperbaiki diri, namun aku
ingin melakukan semuanya bersama dia. Dengan posisiku sebagai pacarnya aku berpikir dia pasti akan menuruti
setiap hal yang coba aku sarankan untuk dia, selama itu memang masih dalam
batas kewajaran dan tidak merugikannya.
Sebuah komitmen bernama “ Pacaran” ini
kian lama terasa kian mengikat kami berdua. Setiap
hari kami selalu bertukar kabar via SMS, rasanya hampir tidak pernah kehabisan
topik pembahasan untuk kami berdua agar terus berkirim pesan singkat setiap
menitnya. Mulai dari pertanyaan sederhana seperti “sedang apa, sudah makan
apa belum?, jangan lupa makan ya” berbagai
bentuk perhatian yang membuat diri terus dibuat melayang karenanya. Tidak sadar
seringnya di buat senyum-senyum sendiri di depan layar handphone, .
“kak, Alhamdulillah adek dapat kerjaan, dan besok adek sudah bisa
bekerja, di tempat fotokopinya mbak Mei” aku
kembali mengiriminya pesan
“Oh ya, Alhamdulillah kalau begitu dek, ya sudah adek kerja yang rajin dan tetap semangat ya”kembali dia menyemangatiku
“Tentu kak, InsyaAllah. Adek akan selalu semangat. Terima kasih J ”
Dalam
hitungan Minggu kami berpacaran, semua masih baik-baik saja. Dia tetap dengan
dewasanya menasihatiku, menjagaku dan tidak pernah menuntut macam-macam dari
ku. Dan selama menjadi pacarnya, aku
perlahan-lahan mencoba untuk membuatnya tidak melupakan kewajibannya sebagai
umat muslim. Karena masih ada
hal yang aku sayangkan dari dirinya, shalat lima waktu yang masih sering dia tinggalkan. Meski begitu, aku tidak mau menyerah untuk terus mengingatkan dia agar tidak
pernah meninggalkan kewajibannya itu. Bukankah
Shalat adalah tiang agama dan memang sudah menjadi kewajiban kita
sebagai seorang muslim untuk menjalankannya, sebagai pengukuh pondasi keimanan
kits, InsyaAllah. Aku tidak mau orang yang aku sayang jauh dari Tuhan ku. Aku
selalu berharap semoga Allah juga selalu menguatkan keimananku.
Setiap
pagi di waktu subuh aku selalu menyempatkan diri untuk menelpon dia, agar dia
bangun dan bisa menjalankan kewajibannya untuk shalat subuh.
“Assalamu’alaikum kak!”
“emm...... Wa’alaikum salam dek!” terdengar suara dia yang masih begitu lemas karena baru bangun
tidur.
“Kak, kakak bangun dong..... shalat subuh... ayo buka matanya...
shalat subuh dulu!” aku selalu
bersemangat membangunkannya, aku terus mengomel berusaha menyadarkan dia dari
rasa kantuknya.
“Ia dek, kakak bangun !”
“benar ya bangun? Ya sudah buka matanya jangan merem lagi. Bangun,
terus shalat !”
“Ia dek, ia.... ya sudah kakak mau siap-siap shalat dulu ya.
Assalamu’allaikum”
“Wa’alaikum salam”
Aku
sangat senang pagi itu dia mau bangun dan bergegas melaksanakan shalat subuh.
Kamis, 15 Juni 2012 hari pertama ku
masuk kerja di tempat fotokopi dan perlengkapan alat tulis, jelas aku masih
begitu asing dengan semuanya, masih banyak yang harus aku pelajari di sini,
mulai dari belajar fotokopi, mengenal nama dan letak setiap barang beserta
harga-harganya. Beruntung istri dari yang punya toko masih mempunyai hubungan
dekat dengan keluarga ku, dan di sini aku selalu di perlakukan dengan baik oleh
mereka. Teman kerjaku juga begitu telaten mengajari ku satu persatu hal yang
musti aku kerjakan. Di sini setiap harinya aku selalu bertemu dengan banyak
orang dengan karakter dan profesi yang berbeda-beda, mulai dari pelajar, guru
dan yang lainnya. Aku harus bisa bersosialisasi dengan baik dengan
konsumen-konsumen ku. Aku juga harus
bisa mengoperasikan komputer
dengan seperangkat software lainnya di sini, dan Alhamdulillah ilmu yang aku
dapat saat sekolah dulu bisa aku terapkan di tempat kerja, itu membantuku bisa dengan cepat
mengerjakan apa yang jadi perintah dan
kebutuhan konsumen ku. Karena di
sini hanya ada dua karyawan, dan banyak hal yang harus ditangani. Memaksa kami
untuk benar-benar fokus dalam bekerja. Tak jarang juga kami kewalahan menangani
permintaan konsumen yang begitu banyak.
Pukul 17.00 WIB jam
pulang kerjaku, aku harus segera mengabari kak Pras yang saat itu menjadi orang
yang terdaftar dalam list penting di kehidupanku. Dia dengan
pengertiannya tidak pernah mau mengganggu aktivitas ku saat jam-jam kerja, jadi
kami ada komunikasi saat aku istirahat di waktu dzuhur dan
di lanjut lagi sore saat aku selesai bekerja. Aku beruntung rasanya memiliki
dia, dengan kedewasaannya, pengertiannya, dan dengan dia yang tidak pernah
banyak protes untuk hubungan yang saat itu kami jalani. Kami
bertetangga tapi memang jarang
bertemu, karena aku harus sibuk bekerja, malam Minggu yang jarang kami manfaatkan untuk keluar bareng, karena hari Minggunya aku tetap harus masuk kerja. Begitu sibuknya sampai-sampai aku jarang ada waktu untuk tepat berada
di sisinya secara nyata. Kami hanya memanfaatkan media elektronik untuk terus
berkirim kabar. Chating via sms, atau kalau sudah merasa rindu dia mencoba
menghubungi ku via telepon. Dan aku terus memanfaatkan momen seperti itu dengan
baik, aku selalu menyempatkan waktu untuk terus mengingatkan dia agar tetap
melaksanakan kewajibannya untuk tidak meninggalkan shalat. Dari subuh sampai
Isya aku terus mengingatkannya. Tidak jarang, dia masih mengabaikan perkataan
ku. Sering dia jujur berkata
“Ia
dek, nanti kalau kakak sudah niat pun akan kakak laksanakan semuanya. Tanpa
adek harus memaksa kakak, dan sekarang kakak masih belum siap!”
Aku
terkadang menyayangkan semua itu. Tapi, aku tidak mau menyerah begitu saja, aku
akan terus mengingatkan dia agar tidak pernah meninggalkan shalatnya, Semua
yang coba aku ingatkan, sebenarnya memang berlaku juga untuk diriku. Karena setiap
kali aku mengingatkan dia, maka setiap itu juga aku mengingatkan diri ku
sendiri.
Tidak terasa sudah hampir satu tahun
aku menjalani semuanya dengan
dia, banyak perubahan-perubahan yang aku lihat dari dirinya, dia yang sudah mau
mendengar dan menuruti saranku untuk menjaga shalatnya, tapi dia yang juga
mulai berubah sikap. Dia melanggar kesepakatan-kesepakatan kami di awal, dia mulai menuntutku untuk hal-hal
berlebihan yang akan melanggar norma dalam agamaku, aku yang saat itu merasa
begitu mencintainya, merasa takut kehilangannya. Tidak sadar, dengan kami yang
mulai sering bertemu dan memiliki waktu untuk berdua, setan pun ada di tengah-tengah kami, dan aku mulai merasa biasa kala dia
berani memegang tanganku, tidak ada protes lagi yang ku ucapkan kepadanya. Keimananku
yang semakin melemah, dari hari ke hari aku yang merasa sudah hilang kendali, benar-benar
melupakan apa yang aku ucapkan sendiri. Aku
selalu menyetujui untuk keluar setiap malam Minggu dengannya, ibu mempercayai
ku dengan memberikan izin setiap kali tahu aku akan pergi keluar dengan kak
Pras. Tapi aku menyalah gunakan kepercayaan yang ibu berikan kepada ku. Mulai
dari itu, aku selalu menuruti keinginannya untuk pergi keluar setiap malam
Minggu, menghabiskan malam berdua dengannya. dan setiap hari Minggunya, karena
jam masuk kerjaku siang aku putuskan untuk menemui dia di rumahnya, rasa rindu
yang terus membelenggu, rasa rindu yang tidak mampu ku kendalikan dengan baik,
membuatku menuruti setiap perintah dia yang aku cinta.
Bukan hanya itu, aku mulai berani melepas hijab ku saat berdua
dengannya. Aku merasa lebih percaya diri dengan rambut terurai panjang agar
terlihat lebih menarik di depannya. Yang ada di pikiranku saat itu, “toh aku
melepas hijab hanya untuk satu orang, tidak ku umbar ke siapa-siapa lagi”
lagi-lagi aku menyepelekan semua kesalahan yang aku mulai langgar sendiri. Dengan begitu dia
kembali berani memegang tangan dan membelai rambutku. Semua hal yang ku lakukan
benar-benar menurunkan kodratku sendiri sebagai perempuan, aku mengumbar aurat
ku sendiri untuk di nikmati oleh laki-laki yang bukan muhrim ku. Dua manusia
yang sedang di mabuk cinta akal dan logikanya sering kali tidak berfungsi dengan
baik, yang ada di pikirannya hanya kenikmatan dan kepuasan yang sesaat. Beruntung
Allah masih melindungi ku, sampai aku tidak melakukan suatu hal yang fatal,
yang akan benar-benar merugikan hidup dan
masa depan ku nantinya.
Semakin hari, rasanya semakin asing dengan diriku sendiri. Semua
hal yang ku lakukan memang bertentangan dengan hati nurani. Allah mungkin
kembali merindukan ku untuk aku kembali mendekatkan diri kepada-Nya, hingga aku
masih kembali di ingatkan oleh-Nya. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan
hubungan yang seperti ini. Dengan hati dan logika ku yang mulai kembali sinkron
berfungsi rasanya aku malu dengan diri ku sendiri, dengan hijabku, dengan Allah
Tuhan ku. Aku menjalankan shalat lima waktuku, aku menutup aurat ku, tapi aku tidak
bisa menjaga sikapku. Aku masih melakukan hal-hal yang dilarang dalam agamaku
dengan masih mau menjalani hubungan yang bernama pacaran dengan laki-laki yang
jelas bukan muhrim ku. Hubungan yang membuat ku malah lebih jauh dengan Tuhan
ku, hubungan yang nyatanya belum bisa mendewasakan ku jadi pribadi yang lebih
baik lagi. Aku sudah benar-benar hilang kendali, dengan aku yang juga mulai
berbeda mengenali dia yang aku cintai. Aku putuskan untuk kembali membatasi
diri, mencari-cari alasan agar tidak mudah bertemu dengan dia, aku selalu
berharap hujan setiap malam Minggu agar aku tidak harus keluar bersamanya, yang
aku inginkan saat itu tidak dulu ingin bertemu dengannya sampai aku benar-benar
bisa mengontrol diriku dengan baik. Akan tetapi sebagai wanita, tentu aku lebih
menggunakan perasaan dibandingkan laki-laki yang lebih menggunakan logika.
Dengan perasaanku yang sudah terlanjur dalam padanya, rasanya begitu berat
untuk menjauh darinya. Ketika perasaanku berkata untuk mencarinya sedang logika
ku berkata jangan. Aku berusaha sekuat tenaga menepis rasa rindu ku padanya.
Aku mencoba mengisi waktu luangku dengan melakukan hal-hal yang aku sukai.
Selepas bekerja ku isi waktu luangku dengan membaca novel, dan selepas shalat
Isya aku putuskan untuk segera tidur agar tidak terlalu banyak waktu yang ku
habiskan untuk bertukar kabar dengannya. Awalnya aku merasa benar-benar tersiksa, rasanya sangat berat menahan
beban perasaan ini. Namun aku yakin bahwa ini adalah jalan terbaik. Dan Allah
akan selalu ada untuk hambanya yang selalu berusaha mendekatkan diri
kepada-Nya. Satu hal yang aku yakini saat itu bahwa serugi-ruginya manusia
adalah dia yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin
Sampai pada akhirnya, keseringan aku tidak bisa menemui dan
menemani setiap dia membutuhkanku, mungkin dia pun mulai tidak nyaman dengan
ku. Aku mendapatkan kabar dari teman-temanku bahwa dia jalan dengan perempuan
lain. Awalnya aku tidak mempercayai hal itu, namun pada akhirnya aku percaya. Aku
melihat semuanya dengan mata kepala ku sendiri. Aku melihat dia jalan dengan
perempuan lain ketika malam
Minggu aku keluar dengan saudara laki-laki ku. Saat itu sengaja aku tidak
mendekati mereka, aku memutuskan untuk mengikuti mereka di belakang. Rasanya
aku tidak percaya dia melakukan semua itu di belakangku. Ternyata selama 3
tahun aku tidak benar-benar
mengenalnya, masih banyak sikap dia yang tidak aku ketahui. Jelas aku sangat syok melihat semuanya, sampai membuat sesak dadaku kala bernafas. Hanya
rasa sakit bercampur kecewa yang aku rasakan waktu itu. Semua yang telah aku lewati dan jalani bersama dia seketika terlintas di pikiranku. Aku
menyesali apa yang telah aku lakukan bersamanya.
Besok malamnya aku putuskan untuk menemui dia di rumahnya tanpa
memberi tahunya terlebih dahulu, karena aku harus menyelesaikan semuanya. Dengan
hati yang terlanjur sakit aku memutuskan untuk menyudahi komitmen pacaran yang
sudah kami sepakati dari 1 tahun yang lalu. Sampai di rumahnya, terlihat jelas
raut wajahnya yang terkejut kala dia melihatku tiba-tiba datang ke rumah dengan
tidak mengabarinya terlebih dahulu, beruntung tidak ada orang tuanya saat itu.
Tapi dia tetap menyambut baik kedatangan ku dengan segera mempersilakan ku masuk dan duduk. Aku duduk di tempat biasa, sofa
paling ujung menghadap ke ruang tengah rumahnya. Tanpa basa-basi segera ku
ungkapkan apa yang ingin ku sampaikan kepadanya.
“Aku tahu semuanya kak, dan maaf aku tidak bisa lagi menjadi pacar
mu. Aku tidak mau menyakiti wanita yang saat ini sudah selalu ada untukmu, sedang
aku yang tidak pernah ada kala kamu butuh. Maaf kak, aku rasa baiknya hubungan
kita cukup sampai di sini. Aku tidak lagi harus jadi pacar kak Pras!”
“Tahu apa Dek? wanita yang
mana? Adek tiba-tiba ke sini tanpa
memberi tahu kakak, dan adek ngebahas hal yang tidak kakak mengerti.”
“Aku tahu malam Minggu kemarin kakak pergi jalan sama Nira, dan
kakak berani memegang tangan Nira. Kenapa kakak tega ngelakuin semua itu di
belakang ku kak?” Aku mengungkapkan
semuanya dengan aku harus mengingat
kembali kejadian yang pasti membuat sakit hatiku. Dan benar saja tanpa terasa
air mataku jatuh membahasi pipi saat mengungkapkannya.
“Kakak bisa jelaskan semuanya dek, tolong adek dengerin kakak! Adek
juga tidak bisa memutuskan hubungan kita secara sepihak.”
“Maaf kak, adek tidak bisa. Adek juga merasa kita menjalani
hubungan ini sudah terlalu jauh dari norma agama kita, kakak sudah melanggar
semua kesepakatan-kesepakatan kita di awal, dengan adek yang juga ikut terbawa
tidak bisa mengontrol diri. Maaf, Keputusan adek tidak akan berubah. Adek ingin
kita menyudahi hubungan kita, adek ingin memperbaiki diri adek dan semoga kakak
juga bisa kembali memperbaiki diri. Bila pun berjodoh semoga Allah mempertemukan
dan menyatukan kita kembali dengan cara yang baik. Semoga Allah mengampuni
dosa-dosa kita kak!” Dia tetap
menahanku, memaksaku untuk tidak mengakhiri hubungan kami. Namun Keputusan ku
sudah bulat, aku tidak lagi mau mendengarkan semua penjelasannya, aku tidak mau
lagi terus menjalani komitmen pacaran dengannya. Segera aku berdiri dari tempat duduk ku dan ku
ucapkan salam untuk pamit pulang.
Keterpisahan yang tetap saja menyisakan luka, kecewa dan air mata. Hati
yang masih tetap jauh dari Sang Maha Pemilik Segala Rasa. Bila kadang tak
sengaja teringat, makanan apapun di depanku terlihat dan terasa tak nikmat.
Raga yang seperti tak bernyawa, dengan hidup yang tak tahu arah dan tujuannya. Tapi
Allah tak akan memberikan ujian lebih dari batas kemampuan umat-Nya. Allah
masih menghidupkan hatiku. Demi ingin menghilangkan rasa sakit dalam hati ku,
aku harus terus berusaha menjalani hidup ku dengan baik. Aku harus kembali
kepada Tuhan ku. Ku isi hari Senin dan Kamis ku dengan berpuasa Sunah, berharap
Allah akan menyejukkan hatiku, shalat malam yang mulai kembali ku kerjakan,
bacaan ayat suci yang rutin ku lantunkan setiap waktu maghrib, Isya dan
Subuhku. Berharap aku bisa kembali berdamai dengan diriku juga dengan kenyataan
yang sudah menjadi ketentuan-Nya.
Dari semua kisah ku bersamanya, aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa tidak akan pernah ada pacaran dengan cara yang sehat, dengan
tidak ada embel-embel hal negatif yang akan dilakukan. Aku merasa sakit memang, mendapat penghianatan dari
orang yang selama ini aku puja dan aku banggakan. Tapi semoga rasa sakit itu
mengajarkan ku banyak hal, menjadikanku pribadi yang lebih kuat dan lebih baik
lagi untuk ke depannya. Aku merasa beruntung Allah masih menegurku dengan jalan
yang seperti ini. Status JOMBLO tidak lagi aku pedulikan, terserah mau orang
menilai ku tidak laku karena tidak mempunyai pacar . Yang saat ini ingin ku
lakukan hanyalah kembali menata masa depan ku dengan baik, memperbaiki diri ku,
dan untuk masalah jodoh aku hanya akan menunggu satu laki-laki yang memang
sudah di tentukan dan di tetapkan oleh Allah untuk ku. Sembari menunggu biar
aku perbaiki diriku. Karena aku meyakini firman-Nya dalam surat An – Nur : 26
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan
laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka
ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”
Semoga
Allah kelak mempertemukan dan menyatukanku dengan laki-laki saleh, yang
berakhlak baik juga bertanggung jawab.
Laki-laki yang Allah Ridhoi tentunya dan semoga Allah selalu
melindungiku, dari segala fitnah dan dari segala perbuatan yang tidak jadi keridhoan-Nya
agar aku tidak lagi harus terjatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama.
Amin.....
Diantara kertas yang berserak,
Diantara buku yang berdebu,
Ada rindu yang berontak,
Menunggu waktu tuk bertemu,
Kamu,
"A"
Diantara buku yang berdebu,
Ada rindu yang berontak,
Menunggu waktu tuk bertemu,
Kamu,
"A"
